Assalamualaikum
Sahabat Nisrina
ESTETIKA AL-QURAN,
KEINDAHAN SUCI
Berbicara tentang dimensi seni bahasa dan wahyu tentu
tidak terlepas dari bahasa Al-Quran. Karena gabungan dari format dan substansi
sebuah ungkapan dalam sebuah bentuk seni merupakan media khusus dari jenis
penyampaian. Di sisi lain, kajian bahasa Al-Quran terkait erat dengan sisi
teoritis pembahasan kita sekaligus pengantar kajian bentuk-bentuk seni Al-Quran
dan hal ini membuat kami perlu menjelaskan pengantar ini.
Sebagai contoh, di penghujung kajian bahasa Al-Quran
kami akan membahas juga tentang apakah bahasa Al-Quran merupakan simbol? Bila
demikian adanya, sejauh mana batasannya? Apa keterbatasan penyampaian simbol
dan jawaban terhadap kemungkinannya? Apakah secara prinsip, mungkinkah kita
dapat memahami bahasa simbol-seni Al-Quran (dengan memperhatikan salah satu
bentuk penyampaian sastra adalah simbol)? Dan atas prinsip dan metode tafsir
atau takwil apa kita menerima bahwa Al-Quran punya gaya tersendiri dan berbeda
dengan teks-teks lainnya?
Kisah-kisah merupakan bagian tak terpisahkan dari
Al-Quran. Substansi yang ada dalam kisah-kisah itu disampaikan dalam format
yang berbeda dari bentuk biasa penulisan sebuah kisah, gaya periwayatan. Di
sinilah ketika kami mengatakan bahwa sebelum memasuki pembahasan metode seni
Al-Quran kita tidak menyatakan prinsip apa yang kita pakai terkait posisi
simbol dalam Al-Quran dan sebab-sebab pemakaiannya, niscaya kita akan mengalami
masalah dalam pembahasan kisah-kisah Al-Quran sebagai bentuk khusus dari
penyampaian. Artinya, kita akan mengambil sikap seperti para pemikir
kontemporer yang menyatakan bahwa seluruh kisah Al-Quran hanya sekedar simbol,
tidak lebih, dan ini berarti kita telah mengesampingkan sebuah pengertian yang
disebut Al-Quran dengan istilah “hidayah”. Dan bila kita meyakini semua kisah
yang ada dalam Al-Quran bukan simbol, niscaya kita akan terkungkung dalam
dimensi lahiriah kisah-kisah tersebut. Di sini kita terkadang lupa betapa
sebagian dari kisah-kisah selain Al-Quran punya perbedaan yang cukup esensial
dari sisi struktur.
Pengertian Bahasa Al-Quran
Karya-karya peneliti terdahulu sebenarnya tidak kosong
seluruhnya dari kajian bahasa Al-Quran. Namun untuk menemukan metode modern
pembacaan teks dengan bantuan ilmu semantik dan hermeneutik masih harus perlu
penelitian mendalam, bila kita tidak ingin mengatakan masih kosong. Selain satu
atau dua peneliti warga negara Arab, para peneliti Al-Quran kontemporer tidak
banyak melakukan riset dengan metode ini. Kini, sebagai sebuah perbandingan,
dalam pembahasan yang berhubungan dengan hasil-hasil yang dicapai filsafat
tentang agama, maka kini diperkenalkanlah apa yang disebut filsafat agama. Nah,
bahasa agama yang dikaji dalam filsafat agama yang disampaikan secara umum itu
dikaji secara serius dan khusus dalam studi bahasa Al-Quran, di mana
setidak-tidaknya hal itu dikaji dalam masalah kemungkinan memahami bahasa
Al-Quran.
Dengan dasar ini, muncul pertanyaan-pertanyaan seperti
berikut: Apa sebenarnya makna dari pengertian-pengertian semacam ini yang
bersumber dari bahasa Al-Quran? Apa hubungannya dengan kesepakatan bahasa yang
dipakai manusia? Mengapa bahasa Al-Quran memakai simbol dan dalam kondisi
seperti apa Al-Quran memakainya? Apa kunci pembuka untuk memahami simbol-simbol
tersebut dan bagaimana kita dapat sampai pada pengertian asli teks? Pendeknya,
pertanyaan pokok dalam kajian bahwa Al-Quran adalah bagaimana Al-Quran
berbicara? Saat menyampaikan pesannya. dalam format, konteks dan kondisi
seperti apa Al-Quran berbicara, sehingga dengan cara pandang itu kita dapat
mengkaji Al-Quran?
Kita tahu bahwa bagian dari hermeneutik modern adalah
mengkaji metode-metode pemahaman dan takwil teks-teks suci sebagai karya
sastra. Yakni, deskripsi bahasa simbol teks-teks suci dengan asumsi bahwa
substansinya dapat diketahui lewat penjelasan metodologi bahasa dan ada penjelasan
bagi hakikat makna yang berbeda-beda. Masalah ini sangat penting buat memahami
Al-Quran. Karena kita akan mendapatkan kasus-kasus dalam Al-Quran di mana
penjelasan dan bahasanya dengan bagian-bagian lain sangat berbeda. Sebagai
contoh di sebagian ayat proposisi Al-Quran mutlak bersifat laporan dan langsung
(seperti kasus-kasus penjelasan hukum-hukum syariat) dan terkadang proposisi
Al-Quran mengambil bentuk lain. Hal ini kembali pada penjelasan Al-Quran
sendiri yang menyebutkan bahwa sebagian dari ayat-ayat Al-Quran dapat ditakwil
dan penakwilan itu hanya diketahui oleh Allah dan mereka yang disebut
“Rasikhuna fil Ilm” (orang-orang yang mendalam ilmunya, Ali Imran : 7).
Jelas, perubahan penyampaian akan mengetengahkan
klasifikasi khusus dalam metode penyampaian Al-Quran yang dapat dikaji juga
dalam tema bahasa Al-Quran. Kini, berbagai pertanyaan di kemukakan yang
berhubungan erat dengan Al-Quran, sementara jawabannya hanya dapat ditelusuri
dalam riset mengenai bahasa Al-Quran. Sebagai contoh, lihat beberapa kasus
berikut ini:
1. Dalam Al-Quran ada tema-tema yang bila dipandang
secara lahiriah tidak dapat dijelaskan dengan sains modern seperti masalah
tujuh langit dan penciptaan Nabi Adam as dari tanah.
2. Dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat Al-Quran yang
makna lahiriahnya tidak sesuai dengan akidah Islam seperti, “Dan datanglah
Tuhanmu, sedang malaikat berbaris-baris” (Al-Fajr : 22), “Tuhan yang Maha
Pemurah. yang bersemayam di atas ‘Arsy” (Thahaa : 5), “Wajah-wajah (orang-orang
mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka Melihat
(Al-Qiyamah : 22-23).
3. Pertanyaan-pertanyaan penting dan sulit biasanya
terkait dengan kajian bahasa Al-Quran dan itu terkait dengan masalah ayat-ayat
Al-Quran yang tidak kontinyu dan sinkron. Menurut sebagian pemikir, kekhususan
gaya Al-Quran dalam permulaan tahapan membaca adalah menarik perhatian dan
tidak seperti biasanya, tidak kontinyu dan tidak memiliki bentuk lahiriah yang
harmonis serta sistem yang normal dan biasa dipakai. Sebagai bukti kita lihat
betapa surat Al-Baqarah yang menjadi surat terpanjang dalam Al-Quran memiliki
tema-tema yang berbeda-beda dan asing satu dengan lainnya. Thaha Husein
membongkar perbedaan yang ada dengan menjelaskan kandungan yang berbeda-beda
dari surat ini.
Kini, kami harus mengatakan bahwa mayoritas pakar
Al-Quran menilai perbedaan dan tidak ada keserasian lahiriah dalam ayat-ayat
Al-Quran terkait erat dengan kekhususan bahasa Al-Quran yang memiliki “sistem
suci” yang berlaku berbeda dengan sistem rasional yang ada. Kami mengenal sebagian
pakar yang ketika menghadapi isu ketidakserasian lahiriah ayat-ayat Al-Quran
berusaha menjawab masalah ini dengan mengingkarinya. Kelompok ini tidak sadar
bahwa sekalipun kita menerima asumsi sebelumnya bahwa ketidakserasian lahiriah
ayat-ayat Al-Quran adalah sebuah kekhususan metode Al-Quran, hal ini tidak
menafikan keraguan terhadap Al-Quran dan wahyu sebagai satu kesatuan, atau
sederhananya, kedua masalah ini tidak melazimi yang lain. Kelompok ini seperti
Arthur John Arbury yang meyakini bahwa fluktuasi tiba-tiba kandungan dan arti
merupakan susunan alamiah Al-Quran.
Baiklah, tapi dalam pembahasan ini kita mendapati
betapa fluktuasi dan irama tidak ditemukan di seluruh Al-Quran. Saat kita
menemukan fluktuasi dan irama dalam ayat-ayat Al-Quran hal itu menciptakan
bentuk yang berbeda dari bahasa yang ada dan dampaknya adalah kita harus
memahaminya dengan cara yang lain. Masalah keserasian ayat-ayat Al-Quran dapat
ditemukan di kebanyakan para pakar Al-Quran muslim terdahulu. Jalaluddin
al-Suyuthi dalam bukunya “Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul” di akhir ayat 88
surat Isra’ dengan gamblang dia menjelaskan masalah ini.
Bahasa Al-Quran
Maksud dari bahasa Al-Quran dalam tulisan ini bukan
bahasa dengan makna leksikal sehingga dengan itu kita memaknai bahasa Al-Quran
adalah bahasa Arab yang tunduk dengan struktur bahasa Arab dengan nahwu dan
sharafnya “Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Al-Quran dengan berbahasa
Arab” (Yusuf : 2). Bahasa Al-Quran yang kami maksudkan adalah pilihan dan
bentuk serasi dari penyampaian yang memiliki hubungan dengan pemahaman dan
latar belakang pemikiran serta budaya yang disampaikan dalam sebuah format
tertentu. Dengan dasar definisi ini kini kita dapat melihat Al-Quran memakai
bahasa apa ketika berbicara dengan manusia.
Tidak disangsikan bahwa bahasa Al-Quran tidak
sebagaimana bahasa manusia pada umumnya. Karena terkadang bahasa sangat
toleran, tidak punya ketelitian awal dan aksiomatik. Dalil paling sederhana
untuk menjelaskan masalah ini adalah sumber dari bahasa manusia pada umumnya
adalah percakapan yang dilakukan antar mereka. Di sisi lain, ayat-ayat
mutasyabihat Al-Quran yang dipahami lewat takwil tidak akan dapat dipahami
dengan cara pemahaman biasa.
Demikian juga, sekalipun Al-Quran memiliki variabel
yang dapat dilacak dalam bahasa Arab, namun jelas betapa Al-Quran tidak
mempergunakan keseluruhan metode sastranya. Sebagai contoh, Al-Quran tidak
mempergunakan pengertian imajinasi dengan makna yang biasa dipergunakan dalam
sastra terutama puisi. Karena dalam pengertian imajinasi selalu terkandung
pengertian “kreasi” atau dengan kata lain membuat-buat. Sebuah pengertian yang
berdasarkan kondisinya tidak hakiki dan jelas Al-Quran tidak akan
menggunakannya sesuai dengan posisinya. Sementara itu, sekalipun Al-Quran
menyampaikan pesannya dengan cara ilmiah, namun tidak menyampaikannya dengan
bahasa ilmiah. Yakni, tidak dengan pengertian dan istilah ilmiah yang khusus
dipakai para ilmuwan.
Sementara yang dimaksud dengan bahasa simbolik, sesuai
dengan istilah, adalah bahasa yang dipakai tidak sesuai dengan arti awalnya.
Tafsir yang ditulis dengan gaya sufi dan irfan lebih memakai bahasa yang
demikian. Adanya sebagian simbol-simbol dalam Al-Quran menunjukkan betapa
Al-Quran pun menggunakannya seperti penggunaan huruf muqattha’ah (huruf yang
terputus-putus), cerita penciptaan (khususnya cerita sujudnya para malaikat
kepada Nabi Adam as), cerita pohon larangan, Nabi Adam as yang berbicara dengan
malaikat, dialog Allah dengan malaikat, pengajaran nama-nama dan mengetahui
kalimat oleh Nabi Adam as.
Bila kita ingin menyatakan bahwa bahasa yang lebih
menguasai bahasa Al-Quran adalah bahasa simbolik dengan bersandarkan ada
contoh-contoh sebelumnya, maka tampaknya kita tengah mengambil sebuah metode
yang akan bertentangan dengan tujuan penurunan Al-Quran. Karena dalam kondisi
ini, pesan ini Al-Quran hanya sekedar sebuah pembicaraan dengan sejumlah khusus
dari manusia-manusia pilihan seperti para Nabi dan Rasikhuna fil Ilm. Padahal
sedikitnya satu level dari pemahaman Al-Quran dikhususkan bagi orang-orang
biasa seperti kita, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ali yang
menyebutnya sebagai makam “ibarat”.
Di sisi lain, Al-Quran sendiri menilai dirinya sebagai
“Dzikir” dan “Hidayah” yang tidak dikhususkan bagi kelompok tertentu “Bulan
yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia”
(Al-Baqarah : 185) dan “Dan Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi
seluruh umat” (Al-Qalam : 52). Pembatasan bahasa Al-Quran hanya untuk
kelompok-kelompok tertentu tidak dapat diterima hanya dengan bukti kandungan
Al-Quran dan bahasa simbolik yang dipakainya.
Dengan demikian, bahwa Al-Quran dengan sendirinya
tidak termasuk dalam bagian dari yang telah disebutkan di atas, sekalipun
mengandung contoh-contoh itu. Bahasa Al-Quran adalah bahasa lain. Karena
Al-Quran adalah buku yang lain. Dengan memperhatikan betapa Al-Quran
menyampaikan ajaran-ajaran agama pamungkas, maka ia juga berisikan hal-hal yang
dapat dipahami oleh masyarakat biasa. Artinya, setiap orang dapat
memanfaatkannya sesuai dengan kemampuannya. Tentunya, maksud dari setiap orang
bukan berarti tanpa syarat dan kondisi. Al-Quran sendiri menjelaskan bagi orang
yang membacanya dengan niat memahami ada sifat-sifat tertentu buat mereka
seperti “Mudzakkir” (pengingat) “Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran
untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al-Qamar : 22),
“Muslim” (berserah diri) “Petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi
orang-orang yang berserah diri (Al-Nahl : 89), “Mukmin” (beriman) “Dan kami
turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang
yang beriman” (Al-Isra’ : 82) dan lain-lain.
Ayat-ayat di atas membuktikan betapa Al-Quran tidak dikhususkan bagi
kelompok tertentu. Karena sekalipun Al-Quran terkadang menggunakan cara
penyampaian biasa, namun di sisi lain kita dapat melihat betapa banyak juga
Al-Quran tidak menggunakan pengertian-pengertian sederhana dan biasa. Contohnya
adalah masalah takwil dan ayat-ayat mutasyabihat yang ada dalam Al-Quran yang
tidak mungkin dipahami langsung oleh setiap orang biasa.
Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya
di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar